LOMBOK DAN NUANSA SASAK RELIGIUS

3Lombok merupakan salah satu pulau di Indonesia. Penduduk asli Lombok adalah suku “Sasak”. Bahasa sehari-harinya adalah Bahasa Sasak. Sasak berasal dari kata “Sak Sak” yang memiliki arti “Yang Satu” atau “Yang Percaya terhadap Yang Maha Esa”. Banyak yang mengartikan Lombok dengan arti “Cabe” karena banyak masakan khas Lombok yang pedas, namun arti kata “Lombok” yang sebenarnya adalah “Lurus” dalam bahasa Sasak asli.
Budaya Lombok banyak terintegrasi dari budaya Pulau tetangganya yaitu Pulau Bali. Namun jika di telaah secara detail, Budaya Lombok sebenarnya sangat Religius, bisa dilihat dari slogan yang diberikan untuk pulau ini yakni “Pulau Seribu Masjid” karena di pulau ini banyak sekali dibangun Masjid yang merupakan tempat ibadah Orang-orang Islam.

2Salah satu Budaya Lombok yang sangat mirip dengan Bali adalah Perkawinan. Jika seorang Lombok atau seorang Sasak yang ingin melangsungkan perkawinan maka dia harus menggunakan Adat Sorong Serah dengan di iring oleh Gendang yang biasa disebut dengan “Gendang Beleq” atau dalam bahasa Indonesia “Gendang Besar”. Ini sangat mirip sekali dengan Bali yang memiliki Gendang sebagai pengiring dari Perkawinan. Namun Bedanya adalah jika di Bali Gendangnya lebih kecil disbanding dengan Gendang Beleq yang ada di Lombok.

6Ada juga Kesenian tradisional di Lombok yang mirip sekali dengan Bali seperti kesenian “Jangger”. Kesenian ini jika di Bali hanya digunakan sebagai pertunjukan saja yang sangat bernuansa adat yang kental. Namun Kesenian ini di Lombok sudah banyak terkontaminasi oleh Budaya-budaya Modern. Sehingga banyak disalahgunakan oleh para Oknum pengguna Kesenian ini. Contoh kecil Jangger yang ada di Lombok sudah mengarah kepada Pornoaksi dan Pornografi yang sangat bertentangan dengan Adat Istiadat Lombok yang juga disebut Pulau Seribu Masjid.

5Kesenian yang sekarang muncul adalah banyak bernuansa Modern seperti “Kecimol” yang hampir sebagian besar Masyarakat di Pulau Lombok tidak mengetahui dari mana asal muasal daripada kesenian “Kecimol ini”. Banyak masyarakat menilai bahwa “Kecimol” ini sangat tidak pantas dengan Budaya Sasak yang sebenarnya. Karena dinilai sangat mengundang dampak negative di kalangan masyarakat Sasak pada umumnya.

4Ini merupakan Pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan oleh para “Penglingsir” (dalam bahasa Indonesia : “ Tetua” ) di Pulau Seribu Masjid ini. Harus ada upaya memperbaiki dan mengembalikan Budaya Sasak yang sangat kental dengan nilai-nilai Religius sesuai dengan slogan “Pulau Seribu Masjid”.

Sebagai anak Pulau Lombok dan Orang Sasak kita harus juga berkontribusi maksimal dalam iktu serta mengembalikan Budaya Sasak yang Asli dan Religius tersebut.

Oleh : Rizal Alfian

Leave a Reply