Damai Itu Indonesia

Senin Pagi setelah aktivitas rutin, saya menaiki kendaraan roda dua yang sudah terlihat usang oleh teriknya mentari dan hamburan debu jalanan menuju sebuah hotel di Kota Mataram yakni Lombok Astoria Hotel. Sambil menghela nafas saya melihat sebuah bangunan megah yang sebenarnya saya pernah memasukinya namun tulisan di atas dinding berbeda saat itu. Namun saya tetap melangkah masuk dan menyapa seseorang yang mengenakan pakaian yang sepertinya mirip pakaian adat Lombok (Sasak) walaupun ada modernnya sedikit.

Tak lama berselang saya sudah tiba di sebuah ruangan di dekat Lobby Hotel. Di sana tertulis dengan jelas “REGISTRASI PESERTA”. dengan senyum tipis saya melangkah masuk dan disambut dengan gembira dan penuh rasa damai. Sayapun merasa lega.

“Apakah Registrasi Duta Damai Dunia Maya di sini”. Basa basi saya kepada salah seorang Panitia, padahal sudah tertulis dengan jelas di dekat pintu dengan logo yang besar. Namun tak apalah, yang penting tidak ada sesuatu yang membuat sebuah perdebatan, karena saya mengawalinya dengan senyuman.

“Ya…Pak…”. Jawab seorang Panitia.
“Mungkin saya kelihatan agak tua, sehingga dipanggil PAK”. Dalam hati saya bergumam.

Setelah Proses registrasi selesai saya menuju kamar dengan nomor kamar yang tertera di kartu yang diberikan panitia. lantai demi lantai terlewati melalui lift hotel. 702 tertulis disebuah pintu sesuai dengan kartu yang saya terima. pintupun saya buka dan selanjutnya sifat “Lebay” mulai datang merasuk ke jiwa. Selfi demi selfi saya lakukan, mumpung di kamar hotel serta tak lupa pula di share di semua media sosial yang saya miliki. Akhirnya saya berpikir bahwa kenapa hanya kronologis pribadi saya saja yang saya share, kenapa tidak yang lebih bermanfaat.

Saya mulai keluar kamar dan bertemu dengan peserta lain, kemudian basa-basi terjadi lagi dengan proses tukar nama, tukar nomor Handphone dan tukar yang lain. Semua menuju Lobby dan ruang makan untuk makan malam. Sesampai di Ruang Makan saya melihat semua sudah berpakaian rapi dengan pakaian seragam yang diberikan panitia. Saya terkejut dan tertawa sendiri karena sendiri saya belum memakai baju seragam tersebut. Dengan kecepatan penuh saya langsung berbalik arah dan kembali ke Kamar untuk mengganti baju. Sampailah di Ruang Makan, saya pun mengambil jatah makan malam. Di suatu Meja terlihat seorang teman yang saya kenal waktu wawancara di Palma Coffe.

Perbincangan terjadi, makanan dan minumanpun selesai dinikmati.

Dari Kisah di atas kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa setiap hari dalam kegiatan kita harus bernilai kedamaian dan penuh dengan rasa cinta dengan sesama. Senyum demi senyum harus dilontarkan karena itu juga yang membuat orang lain merasa dekat dengan kita. Hilangkan kebencian dan emosi harus dikendalikan. Itulah Kedamaian dalam Hidup yang sebenarnya.

Leave a Reply