Kasih sayang dari sebuah ide

Hormat-menghormati selalu diajarkan dalam seluruh pelajaran di sekolah. Memberikan penghargaan sampai dengan memberikan materi baik berupa uang atau yg lain. Namun zaman now sepertinya ada yang hilang dengan semua itu. Nilai-nilai moral seakan hanya sebatas basa basi belaka.

Sekolah yang selalu diagungkan sebagai wadah pendidikan. Berisi Pendidik-pendidik yg profesional di bidangnya. Membangun karakter sudah menjadi kebiasaan mereka. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda selalu terucap setiap waktunya. Senyum, Salam, Sapa, Santun dan Simpati sudah menjadi keharusan dalam setiap perjumpaan. Namun semua itu hanya sebatas slogan sebagai hiasan dinding sambutan tamu.

Tetaplah hati adalah kunci dari semua itu. Bagaimana semua hubungan dijalin oleh hati yang memiliki cinta dan kesetiakawanan, cinta yang dibangun oleh kekeluargaan.

Guru harus sebagai orang tua, selalu memberikan kasih sayang yang terbaik bagi keluarga besarnya. Kasih sayang seorang Siswa harus juga seperti kasih sayang seorang anak pada orang tuanya.

Selain seperti keluarga, sekolah juga layaknya sebuah perusahaan yang memiliki manajemen yang baik. Pimpinan harus menjadi Manajer yang profesional. Bagaimana mengatur perusahaan tersebut hingga menjadi layak diperhitungkan. Ide-ide cemerlang harus diperhitungkan walaupun itu datang dari seorang OB (Office Boy).

Ketika melihat kondisi zaman now, semua sudah berubah seakan dunia sudah terbalik, jika bukan pimpinan yang meberikan ide, maka semua itu hambar. Bahkan Pertanyaan yang sering muncul, “Siapa Kamu? “, “Siapa Dia? “, dan “Siapa Saya?”. Jika “Kamu”, “Dia” atau “Saya”, bukan orang yang “diperhitungkan”, maka usul, ide atau sejenisnya hanya sebuah penghias per


cakapan saja.

Jadi, Kamu, Dia atau Saya harus memiliki nilai yang diperhitungkan dan nilai yang dipentingkan oleh semua orang, maka Kamu, Dia atau saya akan diakui menjadi sebuah bagian dari keluarga itu.

Leave a Reply